Dua mangkuk makanan yang kita masak bersama, menguarkan asih dan rindu, membubung melingkup. Kaki kita saling bersentuh di balik hangatnya kotatsu. Kamu bercerita antusias tentang misimu—dalam batas yang bisa dituturkan, tentunya. Aku menyimak dalam diam, senyum yang kamu bilang jarang menyembul di parasku, kini berhasil menyelinap ke permukaan. Sudahkah hari ini kubilang kalau aku sayang kamu?
Fajar belum tiba, tetapi kamu sudah harus beranjak. Kamu bilang harus segera kembali ke Snezhnaya, agenda organisasi memanggilmu. Kesedihan muncul di hati, tetapi kutepis—kita harus merenggangkan jarak lagi. "Partner-ku, aku pergi dulu!" Kamu sudah nyaris mencapai pintu, aku berlari menahanmu. "Sebentar," kataku, "syalmu belum selesai. Sedikit lagi, kok." Aku memasang ekspresi yang kamu suka—salah satu yang tak bisa kamu tampik. Kamu duduk di dekatku, menanti dengan sabar. Binar memancar di romanmu yang rupawan. Aku benar-benar sayang kamu.
🌊⛈️ | #WarmestFrost
Selepas hari-hari menjemukan, momen yang kujalani denganmu selalu menjadi hal yang kunantikan. Terima kasih senantiasa menyempatkan datang di tengah kesibukan.
𝑨𝒋𝒂𝒙, selamanya, kita seperti ini, ya?
© 즐거운하루 (wmfgkfn on X)
🔗 neka.cc/composer/14357 and neka.cc/composer/14253