[92] Ada sebuah kekuatan yang tak terdefinisikan, seperti udara dingin ketika angin musim panas berhembus membawa sebuah energi magis yang datangnya entah dari mana.
[91] Aku menggerakkan tangan, meraba tanganku dengan lembut, dan merasakan dingin di permukaan kulit. Aku melihat dari sudut mata, sorot mata tante Pur yang lurus dan bibirnya yang selalu tersenyum. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana cara tante Pur menatapku dan Dian.
[90] “Kenapa tante Pur ngeliat aku ya, kenapa bisa tau kalau aku juga punya weton kliwon” aku mulai heran dan menggerutu dalam hati. Wetonku memang kliwon lebih tepatnya rabu kliwon, namun aku anak kedua dari tiga bersaudara.
[89] “tante ini bisa mencium wangi orang yang lahir di weton kliwon, wanginya khas. Dari semua teman-teman mbak Dian, ada satu lagi yang wangi, tapi ga sewangi mbak Dian” tante Pur melihat ke arahku.
[88] “Kita ini sebagai manusia lebih baik ga tau banyak hal nduk, itu lebih baik untuk diri kita sendiri” tante Pur kembali tersenyum dan berhenti mengusap kepala Dian. Setelah beberapa kalimat, obrolan antara Dian dan tante Pur mulai mengalir.
[87] “Pantes, ambune wangi banget, anak siji, lahire seloso kliwon” (Pantes, baunya wangi sekali, anak pertama, lahirnya selasa kliwon), Tante Pur mengusap kepala Dian dengan lembut. “Maksudnya gimana te? aku ga paham” ujar Dian dengan gugup.
[92] Ada sebuah kekuatan yang tak terdefinisikan, seperti udara dingin ketika angin musim panas berhembus membawa sebuah energi magis yang datangnya entah dari mana.
[91] Aku menggerakkan tangan, meraba tanganku dengan lembut, dan merasakan dingin di permukaan kulit. Aku melihat dari sudut mata, sorot mata tante Pur yang lurus dan bibirnya yang selalu tersenyum. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana cara tante Pur menatapku dan Dian.
[90] “Kenapa tante Pur ngeliat aku ya, kenapa bisa tau kalau aku juga punya weton kliwon” aku mulai heran dan menggerutu dalam hati. Wetonku memang kliwon lebih tepatnya rabu kliwon, namun aku anak kedua dari tiga bersaudara.
[86] Aku melihat tante Pur dari sudut kanan mataku sedang berusaha menggali informasi dari Dian, “Dian, anak ke berapa? tante boleh tau, wetonnya apa ?”, Tante Pur tersenyum. “Aku anak pertama dan satu-satunya te. Wetonku Selasa Kliwon” Dian menjawab dengan sangat tenang.
[85] Tante Pur mulai mengeringkan rambut Dian dengan hairdryer, sedangkan aku dan Elly dibantu oleh kedua asisten tersebut. Kedua asisten tante Pur sangat pendiam, yang membuat aku dan Elly menjadi canggung untuk memulai percakapan. Kami hanya saling membalas dengan senyuman, saat berkontak mata.
[84] Setelah selesai keramas, kami berdua diarahkan kembali duduk di kursi kita masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan giliran Elly untuk keramas. Sama seperti kami, setelah selesai keramas, Elly diarahkan untuk duduk ke kursi semula.
[83] Waktu menunjukkan pukul 19.00 Wib malam. Aku, dan Dian diarahkan oleh tante Pur untuk menuju ke Washbak (Kursi untuk keramas rambut), diikuti oleh kedua asistennya untuk melakukan tugasnya. Salon tersebut memiliki 2 Washbak, sehingga hanya Elly yang masih duduk menunggu gilirannya.
[82] Kedua asisten tersebut memiliki bentuk tubuh yang sintal, dan pinggangnya ramping. Bentuk mukanya yang oval, dan bermata besar, serta kulitnya yang putih. Buah dadanya padat, dan besar membusung.
[81] Kedua asisten tante Pur memiliki penampilan seperti perempuan muda berusia 25 tahun, mengenakan kaos polos yang dipadupadankan dengan celana jeans. Tinggi badannya sama seperti aku 160 cm, dan lebih pendek dari tante Pur yang memiliki tinggi badan sekitar 170 cm.
[80] Jika dibandingkan dengan harga di salon-salon mall atau salon sekitar kampusku, untuk hair extension kualitas rambut asli diatas Rp. 650.00 bahkan bisa mencapai jutaan rupiah.
[79] Kalau yang asli, jauh lebih mudah, cukup dirawat dari rumah aja ga perlu ke salon.” Tante Pur tersenyum tipis sambil membelai rambut Dian dengan sangat hati-hati. Mendengarkan penjelasan dari tante Pur, aku menjadi sangat lega, dengan harga yang murah aku mendapatkan kualitas rambut asli.
[78] “Tante, ini rambut sambungnya yang sintetis atau yang rambut asli ?” Dian berusaha memastikan. “Asli, tante selalu ngerekomendasiin ke pelanggan tante untuk pakai yang asli. Kalau yang sintetis, banyak yang ga suka, soalnya perawatannya lebih susah harus ke salon beberapa kali..
[77] Saat duduk, aku melihat Wina dari arah kaca depanku, Ia masih sibuk dengan hpnya, dan sudah tak peduli lagi pada tayangan televisi yang sedang menyala didepan sofa.
[76] Tidak berselang lama, datanglah 2 orang asisten tante Pur dari arah lorong lantai 1. Aku dan Elly di tangani oleh kedua asisten tersebut, sedangkan Dian ditangani oleh tante Pur.
[75] Bulu halus di tengkuk dan lenganku ikut berdiri, seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhku. Aku tidak menghiraukan dan lanjut duduk di kursi sesuai dengan arahan tante Pur. Aku di kursi nomor 3, Elly dikursi nomor 1 dan Dian di kursi nomor 2, lalu kursi 4 dibiarkan kosong.
[74] Salon itu memiliki 4 kursi kosong yang masing-masing kursinya saling berhadapan dengan kaca, seperti salon pada umumnya. Saat aku berpapasan dengan tante Pur, tanpa disengaja lengan kami bersinggungan, seketika aku bergidik.
[73] Terakhir, karna besok jum’at kami tidak ada aktivitas perkuliahan di kampus. Ketiga alasan itu, yg membuat kami semakin yakin untuk menggunakan jasa salon tersebut. Kami bertiga, lalu diarahkan oleh tante Pur untuk pindah sesuai dengan instruksi yaitu duduk di kursi salon yg menghadap ke kaca.
[72] Kami bertiga sepakat jika harus pulang tengah malam dengan beberapa pertimbangan. Pertama, karena jarak kost kami dan salon cukup jauh, lalu jalan pulang yang kami lalui adalah jalan umum yang masih ramai dengan kendaraan. Kedua, karena salon tersebut hanya buka di malam hari.
[71] Karena harga hair extension yg ditawarkan tante Pur menurutku ramah dikantong, aku pun tertarik dan mengikuti jejak Dian untuk menyambung rambut malam itu. Sedangkan Elly akan memotong rambutnya dengan model segi panjang, hanya Wina saja yang duduk di sofa dan siap menunggu kami sampai selesai.
[70] potong dan hair extension, kemungkinan sampai tengah malam. Nanti juga ada asisten tante yang ikut bantuin kok, biar lebih cepet”. Tante Pur tersenyum kearah Dian.
[69] Dian mengangguk dengan cepat. “Boleh deh, tante. Kemalaman ga ya kira-kira?”. “Kalau jadi malam ini.. nanti salonnya tante tutup, cuma melayani kalian aja..
[68] Wajah Dian yang sebelumnya tegang sekarang berubah ceria. “Berapa tante ?” Dian penasaran. Tante Pur kembali merespon, “Tante diskon jadi Rp. 200.00 nanti panjangnya bisa diatur, termasuk jumlah per-helai rambutnya”.
[67] Karena basicnya itu, ia ingin membalas rasa sakit hatinya kepada afram dengan merubah penampilan rambutnya. “Soal harga itu gampang.. bisa tante diskon kok, sekalian nyari pelanggan tetap dari luar kota” tante Pur tersenyum sembari memegang pundak Dian, seolah meyakinkannya.
[66] Dian beranggapan, jika afram meninggalkannya karena dia lebih menyukai perempuan dengan tampilan yang lebih feminin, yang memiliki rambut panjang, seperti kekasih barunya. Dian memang memiliki perawakan yang sedikit tomboy diantara kami.